Getar Yang Sirna Oleh Dirinya

Oleh : Wafa Itsnaini A

Part 1


"Zahra semester berapa ta"

Duh Gusti...baru kali ini aku menegakan duduk ketika membaca pesan dari seseorang, baru kali ini aku mendapat kan kebahagiaan yang datang tiba-tiba, dan baru kali ini senyum ku susah untuk ku hentikan. Dialah kaki-laki yang kemarin meminta nomor telepon ku lewat mba Nur, teman sekamar ku. Dan juga teman sekampus mas Arri. Ya. Dialah mas Arri seorang yang baru berani menghubungiku sekarang. Padahal, kata mba Nur dia sudah memberikan nomor ku satu minggu lalu .

###

Malam begitu mengerti akan semua yang berjalan di pesantren ini. Pondok pesantren Ad-Dzifa, dihalaman pesantren yang luas semua santri barada dimana-mana mengatur padatnya acara akhirusanah. Bulan bersinar penuh seolah khidmat dengan Sholawat yang sedang dilantunkan oleh grup hadrah putra yang senior. Hanya pengurus dan santri terpilih yang ikut turun tangan mengondisikan acara. Yang lain mengikuti acara dengan duduk bersama santri yang lain. Seluruh santri diwajibkan menggunakan baju putih rok hitam dan untuk jilbab menyesuaikan seperti, untuk santri SD menggunakan jilbab putih, Mts menggunakan jilbab hitam, MA menggunakan jilbab abu-abu dan kuliah dan setingkat menggunakan jilbab kuning kunyit.

"Zahra, photo yuk" Mba Nur mencolek lenganku.
"Gass yok mbaee"

Aku membenarkan jilbab sebelum mba Nur memastikan letak kamera ke wajah kami. Jangan tanya kenapa mba Nur dapat membawa hp, karena disini untuk santri mahasiswa diperbolehkan membawa hp. Yaaa walaupun ketika ada acara tidak diperbolehkan kan, tapi ya beginilah kami, santri tua yang selalu dicap sebagai santri mbeling. 

"Coba mba Nur lihat"
Aku tersenyum ketika melihat hasil Selfi kami. 
"Nanti kirim kan aku ya mba Nur".
Mba Nur mengangguk, masih sibuk dengan ponselnya.

"Ayu tenan kamu Zah, senyum mu ini loh, kaya emas yang tersimpan disungai yang begitu jernih. Bening. Enak dilihat. Gak bosenin" Mba Nur menatapku dengan mata yang memuja, aku tahu betul itu .

"Halah mbak, itu lho karena efek kamera, semua orang juga tahu mba, kalau mau foto sama Zahra ini, ya harus pakek filter dulu"
Kami tergelak bersama, hingga tak sadar segelas air mineral dengan gelas plastik terlempar kearah kami. Aku melirik mba Nur yang langsung terdiam seperti patung. Tolong aku. Sungguh. Mulutku ini tidak tahu aturan, bisa bisanya masih ingin tertawa setelah ku tengok kebelakang yang melempari kami ternyata Ning Silma. Putri Abah yai yang sudah memiliki tiga putra. Kusenggol mba Nur yang malah menatapku dengan mata melotot begitu lebar. Kutundukan kepalaku dan ku putuskan untuk menggigit bibirku, agar tawa ku tak lepas seperti kuda yang hilang kendali.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Rasulullah

Dewasa yang suram kali ini

Yaa, Habiballah