Getar yang sirna oleh dirinya

Oleh : Wafa Itsnaini Az-zahra
Part 2

Malam Jum'at yang begitu syahdu, bulan purnama bulat memberkahi malam ini. Seluruh santri sedang khusuk mengikuti yasinan dan tahlil sebagai kegiatan rutin malam Jum'at setelah sholat maghrib. Tetapi. Masih ada santri mahasiswa yang belum pulang, ketahuilah bahwa pondok kami adalah pondok yang jauh dari semua perguruan tinggi, walau begitu semua tetap kerasan mondok dan menjalaninya dengan tulus. Pondok kami lebih berat untuk mengatur diri, karena apa ?. Peraturan dipondok kami tidak seketat pondok lainya, jika pondok lainya semua peraturan tertulis dan disahkan oleh pengasuh bahkan, sampai dibuat seperti undang undang yang memiliki pasal. Sedangkan pondok kami tidak terlalu dikekang, karena itu lebih berat dan lebih sulit untuk membentuk kesadaran pribadi para santri, khususnya santri yang berstatus mahasiswa. "Sampean iku ameh sekolah, ameh kuliah gak masalah, seng penting, wayae ngaji yo ngaji, ono semaan iso muni, wayae sholat yo sholat, wayae ono kegiatan pondok yo meluo, kejobo ono udzur". Begitulah dawuh Abah yai kepada semua santrinya. Kami memiliki batas sampai maghrib, jika melebihi akan ada sanksi, walaupun tidak terlalu berat. Hanya membayar atau membaca beberapa juz didepan ibunyai. Namun rasa malu nya tak bisa tertandingi. Tidak ada malam Jum'at dengan badai angin dan hujan deras, hanya angin semilir yang masuk melalu pintu aula, kita sering menyebut nya AC alami.

###

"Zahra, meh pulang kapan kamu?" Atul merangkul pundak ku, begitu keluar dari kelas. Aku menatap jalan desa didepan kampus, tak pernah henti kulihat santri yang senantiasa hilir mudik berganti. Kampus ku hampir diapit oleh pesantren yang begitu besar, tidak lagi ratusan santri, melainkan tiga ribu santri lebih. Kadang ini yang ku syukuri, kampus yang selalu ikut kelumeran berkah para ulama-ulama sepuh yang berkunjung, karena beliau-beliau adalah kerabat dekat kyai yang mendirikan kampus ini.
"Hehh!! Ditanya malah matung"
Aku terkekeh, begitulah Atul yang selalu ingin segara tiba dirumah. Jalan kami searah, maka dari itu kami sering berangkat bersama. Tapi hari ini Atul membawa motor sendiri, katanya mau membeli beberapa belanjaan.
"Nanti dululah Tull.., kau tau kan aku bagaimana" aku mengerling padanya. Dia tau kalau aku lebih suka balik pondok saat mepet maghrib, pokoknya sampai pondok sholat berjamaah sudah selesai, itulah patokan pulang ku. Jika belum maghrib aku selalu menunggu dengan makan dipinggir jalan, lebih tepatnya aku sering makan mie jawa godok tempat pak Nono, disitulah tempat langganan ku dan tak pernah kurasa enak selain masakan pak Nono.

"Terimakasih pak" Aku tersenyum mengambil uang kembalian. Motor kukendarai dengan tenang, aku tak ingin lekas sampai. Karena udara malam adalah hal yang mampu menguarkan beban kekacauan ku setelah seharian penuh berkutik dengan materi kuliah yang tak pernah masuk kedalam otak ku ini. Mesin kumatikan ketika sudah dekat dengan parkiran pondok, mataku tak bisa diam. Bukan takut. Tapi aku menghindari pada warga yang bermata lancip dan bermulut ember bocor. Mereka itu yang selalu mengadukan pada Abah yai yang tidak-tidak. Ctek!! Waduh!! Aku terlalu keras men-standarkan motor, aku tersenyum ketika kulihat ibu-ibu yang baru pulang dari langgar pondok. Dia tersenyum ramah padaku namun, matanya tak lain melihat seluruh pakaian ku, seolah aku sedang memakai dalaman baju saja.

###

Langkah ku sedikit mengambang agar tak ada yang tahu aku baru pulang. Sebenarnya nya tidak masalah, hanya untuk waspada saja, karena kamarku harus melewati kediaman Abah yai. Baru kusadari, jika malam tenyata sekitar pesantren sedikit mencekam. Dan kuputus kan untuk berlari sampai memasuki kamar. 
"Waalaikumsalam"
Jawab mereka semua ketika aku membuka pintu tanpa ucap salam. Aku meringis. Lalu berjalan meletakan tas.
"Pas inii Zahra datangnya, udah mau mateng" Aku melihat masakan yang dimaksud mba Nur, sebuah sayur capcai yang dimasak dalam mejikom mini. Kami makan dengan disela obrolan ringan sesekali.
"Shutt..." Kulirik mba Nur yang memberiku kode.
"Kenapa mba Nur" kubalas dengan garakan bibir tanpa suara.
"Pancene bocah Iki !! Malah bisik-bisik" Mba Nur menonyor kepalaku.
"Halah itu juga mba duluan yang masang kode" protes ku pada mba Nur, yang kubalas dengan menekan pahanya menggunakan siku. Mba Nur menatapku tajam. Kujulurkan lidahku, mengejek mba Nur. Karna aku tahu mba Nur tidak bisa marah.
"Zah" Panggil mba Nur
"Hmm" Aku menjawab sambil memainkan hp diatas kasur yang sudah menipis. Mba Nur ikut rebahan di sampingku.
"Nomor mu tak kasihkan temenku boleh Ndak?"
Aku menatap mba Nur yang sedang menatap ku, wajahnya sedikit serius dan meminta izin. Seolah seseorang yang meminta nomor ku begitu penting.
"Temen siapa mba?"
"Arri, dia udah ada empat kali nanyain kamu, krono sering bikin story yang ada fotomu, piye? Oke gak ki?" Aku terdiam. Sejauh ini laki-laki yang mengirim Wa pada ku, tak pernah kurespon. Dengan sendirinya dia berhenti sendiri karena tak ada yang kuat dengan balasan cuek ku, dan tak ada yang berhasil menahklukan ku. Karena Abang ku dirumah selalu menasehati ku "Ra, jadilah perempuan yang ramah, tapi jangan dengan laki-laki. Karena perempuan yang benar itu, selalu bisa menjaga marwahnya ketika dihadapkan oleh laki-laki yang bukan mahram nya" Tapi kali ini entah kenapa aku ingin sedikit merasakan desiran itu, yang sejauh ini hanya ada didalam halusinasi ku saja. Kata mba Nur, orang nya baik, kitab nya oke dan dia alumni pondok besar. Nyatanya desiran itu sedikit terasa, hatiku seolah yakin dengan keputusan asal-asalanku ini. Ku tatap mba Nur dan kukatakan.
"Monggo mba, berikan saja ndak papa"
Dan kuyakini sebentar lagi kisah ku akan dimulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Rasulullah

Dewasa yang suram kali ini

Yaa, Habiballah