Getar yang sirna oleh dirinya
Oleh : Wafa Itsnaini Az-zahra
Part 3
"Piya Zah, sudah diWa belum sama Arri"
"Belum ki mba, paling juga isin"
"Lha gimana ta wonge ki, giliran udah dikasih Wa nya gamau kontekan" Mba Nur marah-marah tidak jelas, aku terkekeh menanggapinya, sambil ku amati Wa yang tak kunjung ada pesan.
"Sabar to mba sampean ki, gak lama lagi juga diWa"
Kami bersiap-siap menuju aula putri, untuk mengikuti sorogan bersama Abah yai. Santri putra dan santri putri hanya dipisahkan dengan satir yang lumayan tinggi, sehingga sedikit susah bagi santri yang memiliki niat ingin mengintip lawan jenis. Lagi pula disudut tempat duduk, sudah terpasang mata ganas para pengurus keamanan. Tapi juga yang namanya nafsu, kalah sudah dengan keganasan para keamanan. Aku tertawa bersama mba Nur, ketika kutunjuk nila yang sedang terkantuk-kantuk. Badanya tak bisa diam. Hampir terjengkang kebelang dan hampir tersungkur kedepan. Aku heran. Bahkan yang duduk dibelakang Nila tak ada niat untuk ketawa. Mulutku sudah ku gigit namun, kulihat mba Nur yang malah ketawa terbahak bahak tanpa suara. "Jangan menjadi santri ketika didalam saja, sekalinya mondok, masuk pesantren, berarti tandanya jiwamu itu sudah terikat dengan yang namanya santri. Ora ning njero, ora neng njobo, awakmu sudah jadi santri. Sudah menjadi kewajibanmu menjaga nama seorang santri. Entah itu pakaian mu, perilaku mu, pikiran mu, bahkan ucapanmu, pokok sampean Kabeh kudu ngrekso jenenge santri". Abah berjalan keluar, setelah mengucapkan salam.
###
Aku menunggu sebentar bersama mba Nur dibarisan paling belakang, aku selalu mengalah pada teman yang lain agar bisa keluar terlebih dahulu. Ketika kami sudah sampai di pintu dan hampir saja keluar, salah satu mba-mba keaman menghadang kami.
"Kalian berdua monggo ikut saya kekantor pengurus"
Kucubit punggung mba Nur dengan keras, tidak seperti dugaan ku, mba Nur malah membalas cubitan ku lebih dalam.
"Apa sih mba Nur, malah mbaless balik"
" Heh!! Mbok kira cubitan mu itu lembut hah!, Lihat tu bajuku sampai kucel begitu, belum lagi dalamnya. Wess suek tenan Iki kulitku" mba Nur belajalan mengikuti mba-mba keamanan dengan bersungut-sungut. Kami diam enggan bicara ketika telah masuk didalam kantor pengurus.
###
"Assalamualaikum"
Ucapku dan mba Nur Ketika masuk kamar, teman-teman masih ramai, belum ada yang tidur.
"Darima mana mba Nur, kok lagi pulang"
Lina bertanya pada mba Nur, ketika baru saja melepas mukena. Kami ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
" Aku ditakzir sama Zahra"
Semua orang terdiam. Menoleh kearah ku dan mba Nur.
" Yang bener mba!! " Teriak Lina tak percaya, kemudian disusul anggukan para teman-teman, seolah telah mewakili rasa penasarannya.
" Gara-gara ngetawain orang tidur pas sorogan Abah yai" jawab ku dengan lesuh.
" Kurang kerjaan banget itu mba saroh, orang yang lain biasa aja. Lha kok dia cuma masalah begitu aja dibikin mbulet"
Mba Nur bercerita denga nafas memburu.
" Masa cuma perkara begitu doang ditakzir?"
Ternyata teman kamar kami juga tidak rela dengan perihal sepele seperti itu.
" Mboh, sengit tenan aku ro sarohhh kae. Awas pokoke. Aaaaaa!!! Gara-gara dia jadi bad mood aku. Hih!!"
Aku terkekeh melihat lagaknya mba Nur yang begitu marah. Walaupun tidak menyeramkan sama sekali. Aku juga sebel dengan mba saroh. Baru juga diangkat jadi kemanan. Eh, lagaknya udah kayak lurah aja.
Ting!!!
Kutengok hp ku yang sedang dicarge, sebuah Wa masuk dengan nomor tanpa nama.
Assalamualaikum, izin save Wa nggeh mba
22.30
"Mba Nur" Kupanggil mba Nur dengan suara pelan, lalu kutunjukan layar hp ku. Tak lama dari itu Wa yang sama kembali masuk.
Saya temanya Nur
22.34
Mba Nur menatapku penuh binar seperti habis menerima penghargaan. Lanjut kan Zah, kutunggu endingnya ucap mba Nur berbisik di telingaku.
Komentar
Posting Komentar